RUMAH mungil berdinding gedek itu dikelilingi beberapa jenis pohon seperti
kemiri, jambu air, rambutan, kakao, dan rumpun-rumpun pisang. Agak jauh ke
belakang, membentang lahan luas yang sebagian dikelola dan sebagian lagi
terbiar. Pada lahan yang dikelola itu, tumbuh beragam tanaman seperti jagung,
cabe, ubi dan kacang-kacangan. Tanaman-tanaman itu tampak subur dan berwarna
hijau, seperti berkisah tentang kecekatan pemiliknya bercocok tanam. Dan pada
lahan yang terbiar itu, melebat beragam rumput dan semak-semak. Sesungguhnyalah
ada sejarah luka yang meruap dari rumah, pohon, rumput dan semak–semak itu.
“Masih kaukenangkah kampung itu?” Suara itu menggelegar, menyusupkan segala
getar ke dalam dada saya.
”Masih. Saya masih mengenang segalanya. Tapi, tolong jangan kepung saya dengan
luka,” kata saya sambil menutup mata. Saya tidak sanggup menatap sosok asing
bermata tajam dan bersuara berat itu. Saya juga tidak paham mengapa ia bisa
berada di dalam kamar saya pada malam ini, pada saat hujan menderas.
Berkali-kali saya mencubit lengan untuk memastikan bahwa saya tidak sedang
bermimpi. Dan benar, saya tidak sedang bermimpi. Saya tadi terbangun oleh petir
yang menggetar, seolah-olah sebuah martil raksasa telah dihantukkan ke dinding
rumah saya. Dan pada saat terbangun itulah saya menemukan sosok itu sudah
berada di kamar saya, duduk di salah satu sudut.
”Tapi, siapakah Anda, Tuan?”
”Saya adalah ingatanmu. Maknailah!”
Bedebah! Keangkuhan sosok asing itu membuat saya sangat marah. Tapi, sekejap
kemudian, amarah saya reda karena rumah mungil dan kampung itu muncul lagi
dalam penglihatan saya. Atapnya penuh dengan daun-daun gugur, seperti telah
terjadi angin topan. Di sisi kiri rumah itu, terdapat sebuah kandang yang
dirancang dari batang-batang bambu dan di dalamnya hidup banyak ayam. Pada saat
saya saksikan, ayam-ayam itu sedang berhamburan dari kandangnya. Jantan-jantannya
berkokok, induk-induknya bersegera mencakar-cakar tanah, mencari makanan, dan
anak mereka terciap-ciap. Lalu, seorang anak kecil tiba-tiba keluar dari rumah
mungil itu, menenteng jagung pipil dan nasi basi, melemparkannya ke halaman.
Maka berebutlah ayam-ayam itu menyantap sarapan pagi yang disuguhkan tuannya
kepada mereka. Saya kaget. Apakah saat ini hari memang sudah pagi? Dan
kekagetan itu makin menggila ketika saya mengamati anak kecil yang memberi
makan ayam-ayam itu. Ia mirip seperti saya ketika kanak-kanak.
”Masih lekatkah peristiwa itu dalam ingatanmu?” Sosok itu bertanya lagi, dengan
suara yang lebih menggelegar, memporak-porandakan kesadaran saya. Saya mulai
merasa takut.
”Masih. Saya masih mengingatnya, Tuan. Tapi, tolong jangan kepung saya dengan
luka,” kata saya sambil berusaha melirik jam dinding: pukul 03.13 WIB. Astaga,
hari ternyata masih sangat dini. Dari kejauhan, lamat-lamat terdengar suara
katak bersahut-sahutan dan saling memburu dengan gemuruh hujan yang
menetes-netes dari genteng. Angin menderu, dan kudengar daun-daun pepohonan
saling bergesek, seperti mempersembahkan tarian gaib pada malam. Saya makin
tidak paham dengan apa yang terjadi. Saya cubit lagi lengan saya, sakit. Saya
benar-benar tidak sedang bermimpi. Tapi, siapa dan untuk apa sosok keparat ini
hadir di kamar saya? Apakah ia seorang perampok yang ingin menghabisi nyawa
saya tapi terlebih dahulu mempermainkan saya dengan tindakan-tindakan aneh?
Tapi, apa yang ia inginkan di rumah saya yang jorok dan melompong ini? Tak ada
apa-apa di rumah ini selain kesunyian. Dan, apapun resikonya, saya putuskan
menghajarnya. Tapi, ketika saya hendak bangkit dan mendaratkan tendangan
di perutnya, ia berkata, “Saya bukan maling”.
Saya tersentak. Saya gemetar. Tubuh dan seluruh tulang-tulang saya terasa
panas. Saya menggigil.
”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka,” suara saya bergetar.
”Saya tidak melukai Anda. Tapi saya adalah luka Anda sendiri. Hayatilah!”
Maka penglihatan saya akan rumah mungil dan kampung itu melintas lagi.
Sekarang, seorang wanita separuh baya keluar dari pintu belakang, membawa sapu
lidi. Wanita itu lalu menyapu halaman, mengumpulkan daun-daun gugur. Dan ketika
wanita itu membakar sampah dan daun-daun gugur pada sore harinya, saya melihat
bukan asap yang membubung, tapi semacam kesedihan. Saya mencium bukan uap asap
yang meruap, tapi semacam kenangan. Lalu, serpih-serpih kehilangan menguap ke
angkasa dan mencoreti langit dengan segala yang habis, terbakar oleh waktu.
”Masih kau ingatkah wanita itu?” sosok asing itu bertanya lagi.
”Tidak.”
”Masih kauingatkah wanita itu?” suara sosok asing itu mengerang marah,
seperti tahu bahwa saya sedang berbohong. Saya gemetar, semakin ciut didera
rasa takut.
”Ya,” kata saya akhirnya, “Dia bekas ibu saya.” Pada saat itu, saya
tiba-tiba merasa sangat sakit, seolah-olah telah ditikamkan ratusan pisau ke
sekujur tubuh saya. Dan, rasa sakit itu semakin menggila ketika sosok asing itu
mencambuki tubuh saya.
”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”
”Saya tidak melukaimu. Saya hanya ingin menyelamatkan hidupmu dari
kutukan.”
Lalu seorang lelaki kurus berkulit legam keluar dari rumah mungil itu. Ia
menghampiri istrinya dan berkata, “Tak guna kau bersihkan halaman ini, Istriku.
Biarkanlah kesedihan dan kenangan itu berserakan. Tak guna kau membakarnya,
sebab masa lalu yang membubung itu akan membuat nafasmu semakin sesak.”
Pada saat itu, lelaki kecil yang memberi makan ayam-ayam itu datang
menghampiri suami-istri itu. “Ayah, Ibu, ayam-ayam itu sudah kenyang disuapi
tanganku. Mereka mengucap syukur dan berdoa untuk kesehatan Ayah dan Ibu.”
”Kata-katamu beracun benar, Anakku. Kelak, bukan hanya doa binatang yang kau
sampaikan menghina orang tuamu. Tapi kau mungkin akan membunuh ayahmu dengan
kebuasan binatang.”
”Tidak. Aku tidak mungkin membunuh ayah…”
Penglihatan saya tiba-tiba dibuyarkan oleh sosok asing itu. “Sekarang, kau
bahkan tak merasa bersalah setelah bertahun-tahun membunuh ayahmu. Kau juga
membiarkan ibumu menderita dalam kesepiannya,” katanya.
”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”
***
HUBUNGAN saya dengan ayah berlangsung seperti sebuah tragedi kebohongan.
Saya, anak yang selalu dididik menjadi orang soleh, selalu menangkap kejahatan
dan kebusukan justru hadir dalam setiap prilaku ayah, orang yang selalu memberi
saya berbagai nasehat. Sejak kecil, mungkin sejak saya ingat saya ada, ayah
selalu bercerita pada saya. “Nak, kita hidup di sebuah negeri yang makmur.
Negeri yang memberi banyak kemungkinan berbahagia kepada banyak orang. Kelak,
jika kau sudah besar, akan kau lihat negerimu ini sesak diserbu para
pemburu. Kau juga akan sadar betapa tak jelas batas antara pemburu dan buruan.
Pemburu-pemburu itu, anakku, muncul dengan wajah anjing, babi, dan
binatang-binatang aneh lainnya. Dan kita adalah buruan itu, manusia-manusia tak
berdaya. Jadi, anakku, kau harus bisa jadi lelaki kuat, agar kelak
pemburu-pemburu itu bisa kauusir dari tanah kita. Dan ingat, mintalah kekuatan
itu dari Allah. Tidak akan terberkati hidupmu jika kau tidak menghadapkan
wajahmu kepada-Nya.”
Tapi, suatu malam, kebanggaan saya pada ayah runtuh. Saya selalu ingat
peristiwa itu, sebuah peristiwa yang membuat saya terjebak pada perbatasan
antara takut dan rasa marah. Semuanya bermula ketika seseorang mengetuk pintu
rumah kami. Malam itu, ibu saya sudah tidur. Dan saya yakin, ayah pasti menduga
bahwa saya juga sedang lelap memeluk mimpi. Setelah ayah membukakan pintu, saya
kemudian mendengar percakapan serius berlangsung antara ayah dan tamu itu. Dari
percakapan mereka yang lamat, saya tahu bahwa ayah, bersama tamu itu, sedang
berencana merampok tanah seseorang dengan cara yang mungkin hanya mereka berdua
yang tahu. Saya memang masih kecil, tapi karena ayah selalu menasehatkan kepada
saya bahwa tindakan mencuri dan merampok adalah najis di mata Allah, saya
tahu ayah saya telah melanggar sendiri nasehat-nasehatnya. Saya marah, geram,
dan ingin sekali menampar ayah. Dan kemarahan itulah kemudian yang mendorong
saya mengintip dari lubang kunci untuk mencari tahu siapa gerangan tamu itu.
Astaga, tamu itu ternyata kepala desa. Kemarahan saya makin tinggi. Selama ini,
warga di kampung kami selalu menghormati kepala desa itu sebagai orang yang
baik, agung dan bertanggungjawab terhadap warganya. Dan, tiba-tiba saja wajah
kepala desa itu saya lihat seperti anjing, dan wajah ayah mirip babi. Saya
benar-benar menonton percakapan rahasia yang berlangsung antara dua binatang.
Pada hari-hari selanjutnya, saya tidak tahu bagaimana kehidupan kami
berubah. Rumah kami yang terbuat dari bambu dan beratap rumbia itu berubah
menjadi rumah cantik. Ayah membelikan saya sebuah sepeda. Ibu saya,
wanita molek itu, makin molek karena baju-bajunya makin bagus. Ada kalung emas
melingkar di lehernya. Dan pada jari manis dan tangannya, melingkar cincin dan
gelang-gelang berkilauan.
”Lihat, Nak, Allah telah memberi berkat yang luar biasa kepada kita.
Maka, kau harus lebih taat beribadah, dan teruslah menjadi anak yang tidak
tercela di hadapan pencipta. Semua ini berkat doamu, Nak.”
Pada saat itu, saya sudah duduk di bangku SMP. Saya tidak mengiyakan nasehat
ayah, tapi tidak juga membantah. Tapi, karena sebelumnya saya selalu antusias
mendengarkan nasehatnya, ayah dengan segera mengetahui bahwa saya tidak lagi
menyimak nasehatnya.
Ayah marah. “Kau sudah mulai menantang ayahmu. Tahukah kau apa hukuman
bagi seorang anak yang membantah orang tua?”
Seminggu kemudian, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, saya dikirim ke kota.
Supaya saya makin pintar, kata ayah. Supaya saya tahu bahwa tata krama terhadap
orang tua harus tetap dijalankan. Dan sejak itu, saya tidak pernah pulang
kampung kecuali pada saat saya datang dengan diam-diam ke desa itu dan membunuh
ayah saya tanpa seorangpun yang tahu. Saya tidak tahu kenapa saya begitu tega
melakukan hal itu. Sebelumnya, saya ketahui melalui televisi bahwa kampung saya
selalu disesaki kabut asap yang bersumber dari hutan yang terbakar. Pada
kesempatan lain, saya dengar bahwa anak-anak di kampung kami banyak yang mati
kelaparan dan sebagian lagi tersiksa didera penyakit. Saya dengar juga bahwa
sungai-sungai tidak lagi mengalirkan air, tapi racun. Lalu saya surati ibu
saya. Saya tanyakan kepada ibu apa-apa saja yang telah diperbuat ayah sehingga
malapetaka itu bisa terjadi. Ibu menceritakan dalam suratnya bahwa ayah
melakukannya bersama orang-orang yang dulu dikecamnya sebagai pemburu. Sekarang
ayahmu juga tidak sayang lagi kepada ibu. Dia sekarang sudah sering membawa
pelacur ke rumah kita, baik laki-laki maupun perempuan, para pemabuk dan
orang-orang aneh yang selalu membuat rumah dan kampung kita jadi gaduh. Ibu
sedih, Nak. Ayahmu tidak bisa lagi saya nasehati. Ia makin sering menampar ibu.
Kalau bisa pulanglah, ibu rindu padamu, kata ibu mengakhiri suratnya. Lalu,
saya pulang, membunuh ayah saya. Setelah itu, saya kembali lagi ke kota,
mengembara seperti sedia kala.
Setahun setelah kematian ayah, saya pulang menjenguk ibu. Saya temukan ibu
sedang sakit. Tubuhnya kurus sekali. Saya sedih. Saya menangis. Tapi, dengan
suara lantang, ibu saya meradang. “Pergi kau, anak jahanam. Ketika ayahmu
meninggal, kau tidak pulang. Sekarang, setelah kuketahui bahwa kaulah pembunuh
suamiku, kau datang. Meskipun orang-orang tidak tahu bahwa kaulah pembunuh itu,
tapi Tuhan selalu memberitahu hal itu setiap malam, lewat mimpi-mimpiku.
Sekarang, pergilah untuk selamanya. Kau bukan anakku lagi.”
Saya pergi, dan tidak pernah berusaha untuk pulang. Meski begitu, ingatan
saya akan kampung halaman selalu membuat saya tersiksa. Tersiksa karena ingatan
yang berkelebat itu justru bercerita tentang masa-masa ketika keluarga kami
masih miskin, ketika setiap pagi saya harus bangun lebih awal, memberi
ayam-ayam makan, lalu pergi ke sekolah. Masa ketika ibu masih rajin menyapu
halaman dan memunguti buah kemiri dari bawah pohonnya. Masa ketika ayah sering
mengeluh tapi tetap semangat menjalani pekerjaannya sebagai petani. Masa
sebelum perampok dan pemburu itu tiba di desa kami dan akhirnya mengajari ayah
saya jadi pemburu, perampok dan penjahat yang menyiksa sendiri kaumnya. Masa
penuh cinta yang sampai saat ini tak sanggup saya lupakan. Dan, ingatan itu
adalah rangkuman. Rangkuman peristiwa yang dimulai dari suatu kehidupan yang
murni, merangsek, dan sampai pada kehidupan suatu puak yang terampas,
terhempas.
*****
DI luar, hujan masih terus menderu. Angin bertiup kencang. Malam menjelang
pagi hari ini terasa sangat berisik, seperti sebuah isyarat betapa gaduh hidup
yang telah saya pilih. Betapa durhaka dan terkutuk sikap yang telah saya
ambil sebagai manusia. Saya kenang lagi masa kecil itu, tanaman-tamaman yang
mengelilingi rumah itu, ladang itu, semak-semak itu, ibu-ayah saya, juga
orang–orang kampung yang tak pernah bebas dari penjara kemiskinan. Saya kenang
lagi pantun-pantun yang selalu didendangkan ibu ketika saya masih kecil. Saya
kenang lagi malam-malam di mana ayah saya mengajari saya menggambar perahu.
“Nak, coba lukis Lancang Kuning,” kata ayah. Tapi, ketika gambar yang menurut
saya sangat cantik itu saya tunjukkan, ayah berkomentar, “Belum sempurna, Nak.
Kau lupa membuat motifnya. Itik Pulang Petang-nya mana, Akar Pakis-nya mana?”
Saya kenang segalanya. Saya tiba-tiba menangis. Saya belum pernah sesedih
ini. Dan, saya rindu sekali bertemu ayah. Saya ingin pulang menjenguk ibu. Saya
berdoa. Inilah untuk pertama kalinya saya teringat kepada Allah setelah melupakan-Nya
berpuluh-puluh tahun. Saya sujud.
Dan, tiba-tiba tubuh saya dicambuk. Wajah saya ditampar. Bedebah, siapakah
yang berani berbuat kurang ajar seperti ini kepada saya dan di rumah saya?
”Saya, sayalah yang mencambuk tubuhmu,” suara sosok asing itu menggelegar,
“Selama ini, saya sudah mendatangi kamu berkali-kali, tapi pintu rumahmu selalu
tertutup buat kelembutan. Sudah saya panggil kamu dengan bahasa paling halus,
tapi telingamu selalu terkunci. Sekarang saya datang dengan cara yang kamu
inginkan. Sekarang saya ingatkan lagi kepadamu: sejahat apapun sesamamu,
jangan hakimi. Dan kamu, kamu telah membunuh ayahmu karena kesalahannya. Apa
kamu pikir dengan membunuhnya tanahmu akan luhur lagi, puakmu akan berjaya
lagi. Sudah saya ajarkan kepadamu segala pengertian dan kasih sayang, tapi
kamu tidak mendengarnya. Sudah saya ajarkan kepada kamu bahwa ibu adalah Tuhan
di dunia kecil bernama rumah, tapi kamu siksa ibumu sedemikian rupa. Sekarang
saya telah datang dengan cara yang kamu inginkan. Rasakanlah!” kata sosok asing
itu sambil mecambuki lagi tubuh saya, lebih keras dan lebih cepat. Saya
mengerang, menjerit, memohon-mohon ampun kepada sosok asing itu.
”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”
Tapi cambukan itu terus berlanjut. Saya ambruk. Dan segalanya menjadi
lindap.